Ingkar Pemuda 28 Oktober 2008
Ada pertanyaan, “Kenapa generasi muda Indonesia begitu tidak peduli dengan sekian permasalahan yang mendera bangsanya sendiri?” Belum lagi pertanyaan-pertanyaan semisal, yang sepertinya semakin menunjukkan kepesimisan pandangan tentang generasi muda pada zaman sekarang.
“Keingkaran pemuda terhadap sumpahnya sendiri, yaitu Sumpah Pemuda” seakan telah menjadi penyebab utama dari pertanyaan tersebut di atas. Mereka telah tenggelam dalam berbagai gaya hidup dan pola pergaulan yang hanya mencerminkan sesaat. Suatu ke-ingkar-an yang sangat memprihatinkan.
Generasi muda kita telah terbenam dalam anggapan bahwa masa muda adalah masa penuh bunga dan keceriaan, penuh permainan dan kesenangan. Bahkan, ketika masa depan Bangsa Indonesia semakin tenggelam dalam problematika yang begitu kompleks, sementara para pemuda hanya menonton dari kejauhan, tanpa mengindahkan sumpah yang dulu pernah mereka gentarkan pada setiap telinga yang pernah mendengarnya. Seakan seluruh permasalahan yang menimpa bangsa ini tak memiliki hubungan sama sekali dengan kehidupan mereka.
Dalam kegulitaan ingkar mereka itu, sepertinya mereka tak sempat lagi memikirkan solusi dalam mengatasi problematika yang sangat rumit tadi. Imbasnya, mereka hanya berpikir serius ketika ujian, bekerja, atau bila menghadapi “sedikit” masalah yang–bila dibandingkan dengan yang menimpa saudara-saudara mereka di berbagai belahan bumi Nusantara–belum ada apa-apanya.
Di antara pertanyaan yang membutuhkan jawaban adalah: Mengapa bisa demikian? Mengapa para pemuda yang menuntut untuk dianggap dewasa pada satu sisi, namun di sisi lain sikap mereka malah justru tampak kekanak-kanakan? Bagaimana dan seperti apakah langkah-langkah yang harus ditempuh untuk men-dewasa-kan kembali generasi muda Indonesia? Bagaimana membentuk generasi muda yang bertanggung jawab terhadap bangsanya?
sebagaimana telah diketahui, Sumpah Pemuda, dengan segala getaran gema-nya, telah mengungkapkan suatu sumpah yang mempersatukan segala perbedaan yang ada di Nusantara. Bahkan, bagaikan sengatan petir yang mampu membakar semangat para pemuda untuk BANGKIT menjadi manusia yang bertanggung jawab dan dewasa. Oleh karena itu, bukan sekedar perlu dikaji lagi, namun perlu kembali dirasakan makna hakiki sumpah tersebut, agar mereka kembali dari ke-ingkaran mereka sendiri. Dengan begitu, maka kesadaran akan menggerakkan dan sangat pas untuk dijadikan spirit baru dalam upaya membentuk generasi muda baru yang peduli, kreatif, dan bertanggung jawab.
“Pemuda, ke-ingkaranmu hanya membuat bangsa ini semakin tenggelam. Namun, kesetiaanmu kan membuat bangsa ini kembali BANGKIT menjadi bangsa yang besar“
Andes Kurnia.
1 Komentar »
Tinggalkan Balasan
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- November 2008 (1)
- September 2008 (2)
- Agustus 2008 (5)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
om ipay pemuda buanggweet.
Nb. kalo mau nge-posting, mending tulisannye di periksa lagi. Kali aja ada tulisan yang salah atau ungkapan yang ga nyambung. Key.