Hakikat Kemerdekaan Bagi Pemuda
Perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju bangsa yang “benar-benar” merdeka sejak 17 Agustus 1945, seakan bagaikan isapan jempol belaka. Kemerdekaan hakiki yang diimpikan segenap manusia Indonesia—khususnya pemuda—tak kunjung tercipta. Sejak pembacaan teks proklamasi yang dibaca oleh bapak proklamator, Soekano-Hatta, masyarakat Indonesia masih saja seperti menjalani kehidupan yang terjajah. Hal itu bisa dirasakan ketika menyadari akan kenyataan wabah kelaparan di mana-mana, kemiskinan meraja-lela, serta keterjajahan jiwa secara budaya yang menjangkiti para pemuda Indonesia.
Memang, secara pandang mata, bangsa Indonesia cukup pesat dalam hal pembangunan. Semua sarana-sarana umum—yang terkesan justru terlalu berlebihan—kini telah berdiri tegap hampir di seluruh wilayah Indonesia. Akan tetapi, apabila manusia Indonesia—khususnya pemuda—hanya berfikir bahwa kemerdekaan bergantung pada cepat-pesatnya proses pembangunan, sebagaimana pola pikir kebanyakan bangsa Asia lain yang tanpa disadari sudah terlena oleh jajahan budaya bangsa asing, maka manusia Indonesia—khususnya pemuda—sama sekali masih belum menghayati hakikat kemerdekaan yang hakiki.
Di dalam buku yang berjudul “Perang Budaya”, yang ditulis oleh seorang pemimpin besar Iran, Imam Khomeini, dijelaskan bahwa kemerdekaan hakiki bukan terletak pada ke-moderenitas-an suatu negara, atau bahkan kesejahteraan manusia di suatu negara akibat pemberian dari bangsa asing, melainkan kemerdekaan adalah suatu abdi yang dilakukan segenap manusia dalam membebaskan budaya sendiri dari pengaruh-pengaruh budaya bangsa asing. Lebih dari itu, di dalam buku yang berjudul “Memerdekakan Rakyat, Memerdekakan Diri Sendiri” dengan lugas W.S Rendra menyebut—walau secara tidak langsung—bahwa kemerdekaan hakiki adalah membela kehidupan.
Pengertian kehidupan budaya itu sendiri selama ini seakan dipahami, serta dimengerti dengan definisi yang amat teramat salah. Selama ini, kebanyakan manusia Indonesia menganggap bahwa kehidupan budaya hanyalah dilihat dari maraknya tari-tari, lagu-lagu, serta peninggalan-peninggalan budaya. Padahal, jika dipahami—kepahaman yang terlahir dari sebuah perenungan—hal-hal tersebut hanyalah berupa cagar budaya—bukan kehidupan budaya.
Kehidupan budaya seharusnya berpusat pada bentuk pola pikir, sudut pandang, sikap, dan bahkan kepribadian yang menghiasi segenap manusia di suatu bangsa demi menggapai kemerdekaan yang hakiki. Pola pikir, sudut pandang, sikap, dan kepribadian itu-pun harusnya bias tercermin dari kehidupan sehari-hari. Di Jepang, contohnya, sejak mengalami kehancuran yang amat sangat pada tahun 1945 akibat kekalahan pada perang dunia II, pemerintahan Jepang menjadikan membaca sebagai budaya yang harus mewarnai pemandangan di negara tersebut. Dan terbukti, pembudayaan membaca tersebut benar-benar digalakkan oleh pemerintahan Jepang. Segala buku-buku teknologi dari negara Amerika Serikat, yang notabene berbahasa Inggris, diterjemahkan sedemikian rupa ke dalam bahasa mereka—bahasa Jepang. Walhasil, kemajuan serta perkembangan pun dapat tercapai dengan penuh kegemilangan di negara tersebut. Dan, bahkan, pada hari ini, Jepang tampil sebagai negara yang amat diperhitungkan oleh kaca mata dunia.
Hakikat Kemerdekaan=Pembebasan Pikiran
Berdasarkan itu semua, maka seluruh lapisan masyarakat Indonesia—khususnya pemuda—harus kembali merenungi dan menghayati hakikat suatu kemerdekaan yang sesungguhnya. Pertanyakan lagi diri kita, apa benar kita ini merdeka? Merdeka secara keseluruhan, lahir dan batin. Atau malah kita ini memang—secara tak sadar—masih saja hidup dalam keadaan terjajah? Berkenaan dengan ini, dua sikap perlu dilakukan oleh segenap manusia Indonesia—khususnya pemuda. Pertama, yaitu membebaskan pikiran dari mimpi-mimpi semu yang selama ini telah teracuni oleh pengaruh budaya asing. Menelusuri kembali buku-buku sejarah bangsa adalah salah satu upaya yang jitu untuk mewujudkan semua itu. Karena, dengan menelusuri kembali sejarah bangsa, maka kesadaran akan diri sendiri pun pasti akan tercipta. Kedua, merasa bangga dengan diri sendiri, kebudayaan, dan bangsa sendiri. Bungkam wicara yang selalu saja bercerita tentang kehebatan serta kemajuan budaya serta bangsa negeri anu dan si itu. Melainkan, kini sudah sepatutnya manusia Indonesia—khususnya pemuda—mulai melakukan tindakan-tindakan nyata untuk memajukan diri sendiri, kebudayaan, dan bangsa sendiri, sehingga dengan begitu orang lain, atau bangsa lainlah yang kini saatnya bercerita tentang kehebatan serta kemajuan yang telah ter-peroleh.
Pada akhirnya, sepatutnyalah manusia Indonesia—khususnya pemuda—mulai memiliki prinsip kehidupan seperti “The better life will only come to the hands of people who want to do something for exchange”. Dengan memegang teguh prinsip demikian, maka kemerdekaan yang sesungguhnya pasti akan datang, dan kehidupan yang lebih baik—insyaAllah—akan menghiasi segenap kehidupan bangsa Indonesia.
Ditulis oleh: Andes. Kurnia
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- November 2008 (1)
- September 2008 (2)
- Agustus 2008 (5)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS