Pemuda Bangsa
KAu datang membawa lelah dari gulita malam
Matamu picik melihat kebobrokan
Telingamu memerah mendengar janji si Tua Penguasa
Oh…Kau Pemuda Bangsa…
Tangismu tak terdengar, semangatmu pun terabaikan
Oh…Kau Pemuda Bangsa…
cuma satu kata, kini bersiap teriak dari lantang suaramu…
“Pemuda! Pemuda! Pemuda!”
Menetaskan Kepribadian Gila Aksara
Di dalam salah satu kisah kehidupan Bung Karno, terkutip sebuah kalimat dari ujaran beliau, “Berikan pada saya sepuluh pemuda, maka akan saya goncangkan dunia!” ujaran tersebut tampaknya bukanlah sebuah gertakan belaka dari mulut sang proklamator yang memang kita tahu suka menggertak. Namun, itu merupakan fakta kejujuran tentang betapa berharganya seorang pemuda di mata sang proklamator tersebut. Selain itu, tampaknya, dengan mengucapkan kalimat tersebut, Bung Karno seolah berharap bahwa akan ada generasi penerus–dari pemuda tentunya–yang dapat melanjutkan perjalanan perjuangan bangsa Indonesia.
Kisah kepahlawanan pemuda memang sudah tidak perlu lagi menjadi pertanyaan. Kisahnya seakan telah mewarnai segala bentuk perjuangan di seluruh negri. Perjuangan serta kegigihan para pemuda dalam setiap aksi pemberontakan terhadap penjajah, ataupun terhadap segala bentuk kungkungan dari pihak-pihak penguasa zalim, selalu menjadi langkah awal menuju kemerdekaan suatu bangsa yang hakiki. Maka, wajarlah, dalam hal ini, pemuda bisa dianggap sebagai pelopor.
Dari segi ilmu pengetahuan, lagi-lagi para pemuda menjadi sosok yang terdepan. Di dalam buku yang berjudul seratus tokoh pelopor ilmu pengetahuan, diketahui hampir 95% dari para tokoh yang disebutkan dalam buku tersebut adalah tokoh-tokoh yang berusia relatif muda. Einstein, James Watt, Newton, dan lain-lain, mereka semua merupakan para pemuda yang dengan usia belianya telah mampu memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di zaman moderen ini.
Jika membaca beberapa fakta-fakta tertulis di atas, dapat disadari, para pemuda adalah masa depan suatu bangsa. Segala bentuk kemajuan serta perkembangan di dalam suatu bangsa berada di tangan para pemuda. Akan tetapi, pada kenyataannya, di zaman era-globalisasi seperti sekarang ini, pemuda seakan bagaikan telur usang yang belum menetas. Kehidupan para pemuda seakan hanya berputar dalam lingkaran hitamyang kelam. Pemuda kini sudah tidak lagi menyadari, bahkan sudah tidak lagi mengetahui tentang betapa berharganya kehidupan mereka. Pemuda kehilangan arah. Dan, dalam hal ini, dampak yang terjadi adalah pemuda seketika menjadi sekumpulan manusia bingung yang sibuk mencari arah kehidupannya–atau sering disebut sebagai pencarian jati diri. Dan dalam kesibukannya ini, pemuda pun lantas menjadi lupa akan kewajibannya yang sebenarnya, yaitu menetaskan kulit telur yang kini sedang mengurungnya.
Lalu, apa yang harus dilakukan oleh para pemuda agar tidak terlalu tenggelam dalam proses pencarian jati dirinya? Jawaban akan pertanyaan ini sebenarnya tidak perlu dijawab. Yang perlu dilakukan oleh pemuda hanyalah satu, yaitu Menetaskan Kepribadian Gila Aksara yang kini sedang tertidur lelap dalam lubuk hati para pemuda. Ya, pemuda harus kembali membuka buku-buku yang menceritakan tentang kehebatan mereka. Pemuda harus kembali mengenal siapa diri mereka, dan seberapa berharga kehidupan mereka. Dan ketika semua ini mampu ditelusuri oleh para pemuda, niscaya kemunduran suatu bangsa tak akan pernah terjadi. Dan, ucapan Sang Proklamator, Ir. Soekarno, tentang kehebatan para pemuda, bukanlah sekedar isapan jempol belaka.
Pada akhirnya, PEMUDA HARUS BANGKIT. PEMUDA HARUS MAJU. PEMUDA HARUS BERANI. PEMUDA…YA, PEMUDA…TETASKANLAH KEPRIBADIAN GILA AKSARAMU!!!
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- November 2008 (1)
- September 2008 (2)
- Agustus 2008 (5)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS