Gilaaksara’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Ingkar Pemuda 28 Oktober 2008

Ada pertanyaan, “Kenapa generasi muda Indonesia begitu tidak peduli dengan sekian permasalahan yang mendera bangsanya sendiri?” Belum lagi pertanyaan-pertanyaan semisal, yang sepertinya semakin menunjukkan kepesimisan pandangan tentang generasi muda pada zaman sekarang.

“Keingkaran pemuda terhadap sumpahnya sendiri, yaitu Sumpah Pemuda” seakan telah menjadi penyebab utama dari pertanyaan tersebut di atas. Mereka telah tenggelam dalam berbagai gaya hidup dan pola pergaulan yang hanya mencerminkan sesaat. Suatu ke-ingkar-an yang sangat memprihatinkan.

Generasi muda kita telah terbenam dalam anggapan bahwa masa muda adalah masa penuh bunga dan keceriaan, penuh permainan dan kesenangan. Bahkan, ketika masa depan Bangsa Indonesia semakin tenggelam dalam problematika yang begitu kompleks, sementara para pemuda hanya menonton dari kejauhan, tanpa mengindahkan sumpah yang dulu pernah mereka gentarkan pada setiap telinga yang pernah mendengarnya. Seakan seluruh permasalahan yang menimpa bangsa ini tak memiliki hubungan sama sekali dengan kehidupan mereka.

Dalam kegulitaan ingkar mereka itu, sepertinya mereka tak sempat lagi memikirkan solusi dalam mengatasi problematika yang sangat rumit tadi. Imbasnya, mereka hanya berpikir serius ketika ujian, bekerja, atau bila menghadapi “sedikit” masalah yang–bila dibandingkan dengan yang menimpa saudara-saudara mereka di berbagai belahan bumi Nusantara–belum ada apa-apanya.

Di antara pertanyaan yang membutuhkan jawaban adalah: Mengapa bisa demikian? Mengapa para pemuda yang menuntut untuk dianggap dewasa pada satu sisi, namun di sisi lain sikap mereka malah justru tampak kekanak-kanakan? Bagaimana dan seperti apakah langkah-langkah yang harus ditempuh untuk men-dewasa-kan kembali generasi muda Indonesia? Bagaimana membentuk generasi muda yang bertanggung jawab terhadap bangsanya?

sebagaimana telah diketahui, Sumpah Pemuda, dengan segala getaran gema-nya, telah mengungkapkan suatu sumpah yang mempersatukan segala perbedaan yang ada di Nusantara. Bahkan, bagaikan sengatan petir yang mampu membakar semangat para pemuda untuk BANGKIT menjadi manusia yang bertanggung jawab dan dewasa. Oleh karena itu, bukan sekedar perlu dikaji lagi, namun perlu kembali dirasakan makna hakiki sumpah tersebut, agar mereka kembali dari ke-ingkaran mereka sendiri. Dengan begitu, maka kesadaran akan menggerakkan dan sangat pas untuk dijadikan spirit baru dalam upaya membentuk generasi muda baru yang peduli, kreatif, dan bertanggung jawab.

Pemuda, ke-ingkaranmu hanya membuat bangsa ini semakin tenggelam. Namun, kesetiaanmu kan membuat bangsa ini kembali BANGKIT menjadi bangsa yang besar

Andes Kurnia.

November 7, 2008 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Sekelumit Kisah Bapak Pemuda

<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Bung Hatta mencintai pemuda. Ia gembira kalau pemuda-pemuda datang mengunjunginya. Suatu kejadian di rumah Hatta pada permulaan Juli 1945. Persoalannya mengenai negara kesatuan atau negara berserikat. Pemuda mencium berita bahwa besoknya akan ada perdebatan di Panitia Penyelidik Persiapan Kemerdekaan. Kala itu, Bung Hatta sudah tidur. Waktu menunjukkan jauh malam, dekat tengah malam. Walaupun demikian, ada suatu rombongan pemuda berkunjung ke rumah bung Hatta. Tujuannya, bung Hatta jangan mempersoalkan Negara Indonesia merdeka tersusun daripada negara-negara kecil dalam suatu kesatuan (perserikatan)—artinya berbentuk federasi negara-negara. Mereka sadar apabila bung Karno mempertahankan negara kesatuan mati-matian, suatu bentrokan besar akan terjadi antara kedua pemimpin negara tersebut—Soekarno dan Hatta.

Dengan matanya yang masih terkukung kantuk, Hatta melihat ke-kanan dan ke-kiri untuk mengetahui berapa banyak anak muda yang menyerbu ke kamar kerjanya. Manis sekali sikapnya Hatta itu. Pemuda yang menyangka akan disemprot oleh bung Hatta, duduk bersila di depan. Bung Hatta duduk di kursi. Seorang juru bicara dari pemuda menceritakan kekhawatiran dengan perkembangan pertentangan yang membahayakan. Setelah mendengarkan cerita itu, dengan tenang bung Hatta menjanjikan hal itu tak akan terjadi.

Pemuda gembira mendengar penuturan ini. Besoknya, bahkan Hatta tidak berbicara mengenai bentuk negara…Doktor Amir dari Sumatra Utara menyatakan, apakah tindakan pernyataan kemerdekaan bukan suatu perebutan kekuasaan. Sebelum bung Karno menjawab, bung Hatta berkata keras, seolah membentak doktor Amir,

Dengan proklamasi kita menyatakan pada seluruh dunia bahwa kita adalah bangsa yang mau merdeka dan mau menentukan nasib sendiri…”

(red—Seri Dimata—Pribadi Manusia Hatta)

Dalam usianya yang tergolong muda, pemuda memang memiliki semangat yang ber-api-api dalam berbicara dan bertindak. Kondisi yang meledak-ledak yang ada pada jiwa pemuda itu terkadang membutuhkan bimbingan serta nasehat dari kaum tua, sehingga pemuda dapat berjalan di jalan yang semestinya. Pencerminan ringkasan riwayat Hatta di atas merupakan pengertian bahwa tak dapat disangkal pemuda memang membutuhkan sosok teladan yang dapat membimbingnya. Sosok yang dapat memberikan contoh positif. Sosok yang membuat para pemuda tidak merasa ada gap di antara dua generasi tersebut—tua dan muda. Sosok yang disegani namun tidak ditakuti.

Konsepsi hormat terhadap yang lebih tua sebenarnya sudah bersemayam di dada para pemuda. Namun, terkadang sikap orang tua yang terkadang menghakimi, atau bahkan sikap mengecilkan pola pikir pemuda yang dianggap tak berpengalaman, itulah yang membuat pemuda merasa ada gap dengan generasi tersebut—generasi tua. Sehingga, sikap menjauhi, dan juga sikap bangkang menjadi satu-satunya sikap yang ditonjolkan oleh pemuda guna menunjukkan betapa pemuda bukan anak kecil lagi, melainkan manusia yang sudah memiliki visi untuk mencapai masa depan.

Zaman sudah berganti, kerinduan pemuda terhadap hadirnya sosok yang dapat diteladani semakin menusuk di hati. Kemana para tua yang bijaksana? Yang mampu membimbing para pemuda menuju masa depan Indonesia yang gemilang. Memang, hantu perseteruan antar generasi semakin memanas dalam negeri. Namun, tak bisakah sedikit meredakan amarah dalam hati, agar hilang semua rasa benci terhadap generasi itu dan ini. Mari para tetua, bimbinglah kami. Junjunglah kami. Kelak kaln Ku gendong ragamu yang hampir renta ketika kami sudah berhasil membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berharga diri di mata dunia. Ya, MATA DUNIA

September 19, 2008 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Membentuk Karakter Pemuda Sejati Di Bulan Ramadhan

Para pemuda merupakan urat nadi suatu bangsa yang merdeka di setiap masa. Mereka kelak mempunyai peran besar dalam membangun masa depan bangsa. Kepentingan pemuda semakin terasa pada masa sekarang ini, ketika seluruh lapisan masyarakat Indonesia merindukan sosok pemimpin yang berakhlak mulia. Namun, hal tersebut mustahil terwujud jikalau pemuda tidak menyadari akan pentingnya pembinaan diri. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, para pemuda harus menemukan momen yang tepat untuk mereka dapat membina karakter diri mereka agar menjadi insan yang berakhlak mulia. Dan dalam hal ini, bulan Ramadhan merupakan momen yang tepat bagi para pemuda untuk mewujudkan semua itu.

Sebagai konsekuensi makhluk yang berke-Tuhan-an, pemuda Indonesia seakan kehilangan kepribadian, kejayaan, dan kemuliaan mereka. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh-pengaruh budaya asing yang memang sudah merasuki pikiran dan jiwa mereka. Akan tetapi, meskipun keadaan sedemikian rupa, harapan tetap ada pada pundak para pemuda untuk membangkitkan kejayaan bangsa.

Untuk mengembalikan kejayaan pemuda ke posisi yang sebelumnya, yaitu pada saat rasa nasionalisme sedang kuat, di bulan Ramadhan ini, pemuda harus mengetahui dan menyadari akan adanya kekuasaan spiritual yang kini sedang terbenam dalam hati mereka. Suatu kekuatan yang tidak mengikat, tapi mengendalikan. Tidak menekan, tapi menggetarkan. Tidak mengancam, tapi mempesona. Tidak menakutkan, tapi menggairahkan. Tidak memaksa, tapi mencerahkan. Itulah kekuatan spiritual

Kekuasaan spiritual—yang hanya dapat diperoleh dari hasil pemahaman agama secara mendalam—adalah kekuasaan orang yang tidak berkuasa secara struktural. Ia berkuasa karena kekuatan kepribadiannya. Ia berkuasa dikarenakan kharismanya. Dan, kharismanya terbentuk dari gabungan wibawa dan pesona, ilmu dan akhlak, pikiran dan tekad, keluasan wawasan dan kelapangan dada. Mereka—para pemuda yang memiliki kekuasaan spiritual—senantiasa menyebarkan ilmu dan cinta. Mereka membawa cahaya dan menerangi kehidupan bangsa.

Oleh sebab itu, di tengah konflik yang sedang melanda kaum pemuda di zaman sekarang ini, bulan Ramadhan adalah bulan di mana para pemuda dapat menegakkan wajah dan mempertahankan kehormatan pribadi. Ramadhan adalah bulan penuh hikmah yang bukan saja diperuntukkan bagi kaum pemuda muslim, melainkan juga kepada seluruh pemuda yang bernyawa di nusantara. Pada bulan ini, tercerminlah akhlak yang mulia, di mana sikap toleransi menjadi sikap terpuji yang harus dimiliki secara luhur dalam dada setiap pemuda. Dampaknya, persatuan dan kesatuan tanpa memperdulikan segala perbedaan yang ada, akan tercipta dengan kuat.

Itulah inti dari makna bulan Ramadhan yang harus disadari oleh segenap kaum pemuda. Yaitu bulan di mana mereka harus menenggelamkan diri mereka dalam mempelajari, merenungi, dan menghayati ilmu-ilmu ke-agama-an guna membangkitkan kembali kekuasaan spiritual dalam diri mereka. Bulan Ramadhan juga merupakan ajang bagi setiap pemuda untuk menunjukkan sikap toleransi yang hakiki antar sesama. Dengan begitu, secara alami, setelah bulan Ramadhan kelak berakhir, maka akan terciptalah karakter sejati dalam diri pemuda bangsa Indonesia.

“Wahat hamba 4W1, jadikanlah bulan Ramadhan sebagai bulan untuk kalian menenggelamkan diri, menghayati, dan memahami nilai-nilai keagamaan dalam diri dengan berzikir, dan membaca Al-Qur’an dan terjemahannya. Bertoleransilah kau, dan saling menghormatilah. Sesungguhnya 4W1 Maha Tahu apa yang tampak dan tak tampak.”

(Kurnia, 1 September 2008)

September 2, 2008 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Hakikat Kemerdekaan Bagi Pemuda

Perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju bangsa yang “benar-benar” merdeka sejak 17 Agustus 1945, seakan bagaikan isapan jempol belaka. Kemerdekaan hakiki yang diimpikan segenap manusia Indonesia—khususnya pemuda—tak kunjung tercipta. Sejak pembacaan teks proklamasi yang dibaca oleh bapak proklamator, Soekano-Hatta, masyarakat Indonesia masih saja seperti menjalani kehidupan yang terjajah. Hal itu bisa dirasakan ketika menyadari akan kenyataan wabah kelaparan di mana-mana, kemiskinan meraja-lela, serta keterjajahan jiwa secara budaya yang menjangkiti para pemuda Indonesia.

Memang, secara pandang mata, bangsa Indonesia cukup pesat dalam hal pembangunan. Semua sarana-sarana umum—yang terkesan justru terlalu berlebihan—kini telah berdiri tegap hampir di seluruh wilayah Indonesia. Akan tetapi, apabila manusia Indonesia—khususnya pemuda—hanya berfikir bahwa kemerdekaan bergantung pada cepat-pesatnya proses pembangunan, sebagaimana pola pikir kebanyakan bangsa Asia lain yang tanpa disadari sudah terlena oleh jajahan budaya bangsa asing, maka manusia Indonesia—khususnya pemuda—sama sekali masih belum menghayati hakikat kemerdekaan yang hakiki.

Di dalam buku yang berjudul “Perang Budaya”, yang ditulis oleh seorang pemimpin besar Iran, Imam Khomeini, dijelaskan bahwa kemerdekaan hakiki bukan terletak pada ke-moderenitas-an suatu negara, atau bahkan kesejahteraan manusia di suatu negara akibat pemberian dari bangsa asing, melainkan kemerdekaan adalah suatu abdi yang dilakukan segenap manusia dalam membebaskan budaya sendiri dari pengaruh-pengaruh budaya bangsa asing. Lebih dari itu, di dalam buku yang berjudul “Memerdekakan Rakyat, Memerdekakan Diri Sendiri” dengan lugas W.S Rendra menyebut—walau secara tidak langsung—bahwa kemerdekaan hakiki adalah membela kehidupan.

Pengertian kehidupan budaya itu sendiri selama ini seakan dipahami, serta dimengerti dengan definisi yang amat teramat salah. Selama ini, kebanyakan manusia Indonesia menganggap bahwa kehidupan budaya hanyalah dilihat dari maraknya tari-tari, lagu-lagu, serta peninggalan-peninggalan budaya. Padahal, jika dipahami—kepahaman yang terlahir dari sebuah perenungan—hal-hal tersebut hanyalah berupa cagar budaya—bukan kehidupan budaya.

Kehidupan budaya seharusnya berpusat pada bentuk pola pikir, sudut pandang, sikap, dan bahkan kepribadian yang menghiasi segenap manusia di suatu bangsa demi menggapai kemerdekaan yang hakiki. Pola pikir, sudut pandang, sikap, dan kepribadian itu-pun harusnya bias tercermin dari kehidupan sehari-hari. Di Jepang, contohnya, sejak mengalami kehancuran yang amat sangat pada tahun 1945 akibat kekalahan pada perang dunia II, pemerintahan Jepang menjadikan membaca sebagai budaya yang harus mewarnai pemandangan di negara tersebut. Dan terbukti, pembudayaan membaca tersebut benar-benar digalakkan oleh pemerintahan Jepang. Segala buku-buku teknologi dari negara Amerika Serikat, yang notabene berbahasa Inggris, diterjemahkan sedemikian rupa ke dalam bahasa mereka—bahasa Jepang. Walhasil, kemajuan serta perkembangan pun dapat tercapai dengan penuh kegemilangan di negara tersebut. Dan, bahkan, pada hari ini, Jepang tampil sebagai negara yang amat diperhitungkan oleh kaca mata dunia.

Hakikat Kemerdekaan=Pembebasan Pikiran

Berdasarkan itu semua, maka seluruh lapisan masyarakat Indonesia—khususnya pemuda—harus kembali merenungi dan menghayati hakikat suatu kemerdekaan yang sesungguhnya. Pertanyakan lagi diri kita, apa benar kita ini merdeka? Merdeka secara keseluruhan, lahir dan batin. Atau malah kita ini memang—secara tak sadar—masih saja hidup dalam keadaan terjajah? Berkenaan dengan ini, dua sikap perlu dilakukan oleh segenap manusia Indonesia—khususnya pemuda. Pertama, yaitu membebaskan pikiran dari mimpi-mimpi semu yang selama ini telah teracuni oleh pengaruh budaya asing. Menelusuri kembali buku-buku sejarah bangsa adalah salah satu upaya yang jitu untuk mewujudkan semua itu. Karena, dengan menelusuri kembali sejarah bangsa, maka kesadaran akan diri sendiri pun pasti akan tercipta. Kedua, merasa bangga dengan diri sendiri, kebudayaan, dan bangsa sendiri. Bungkam wicara yang selalu saja bercerita tentang kehebatan serta kemajuan budaya serta bangsa negeri anu dan si itu. Melainkan, kini sudah sepatutnya manusia Indonesia—khususnya pemuda—mulai melakukan tindakan-tindakan nyata untuk memajukan diri sendiri, kebudayaan, dan bangsa sendiri, sehingga dengan begitu orang lain, atau bangsa lainlah yang kini saatnya bercerita tentang kehebatan serta kemajuan yang telah ter-peroleh.

Pada akhirnya, sepatutnyalah manusia Indonesia—khususnya pemuda—mulai memiliki prinsip kehidupan seperti “The better life will only come to the hands of people who want to do something for exchange”. Dengan memegang teguh prinsip demikian, maka kemerdekaan yang sesungguhnya pasti akan datang, dan kehidupan yang lebih baik—insyaAllah—akan menghiasi segenap kehidupan bangsa Indonesia.

Ditulis oleh: Andes. Kurnia

Agustus 16, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Itu Bukan Suara Pemuda!

Pernyataan para mahasiswa Universitas Nasional di dalam program televisi “Padamu Negeri”, Metro TV, 12 Agustus 2008, tentang ketidak-berpengalaman para pemuda untuk memimpin bangsa, belum cukup mendapat pembenaran untuk membuktikan bahwa para pemuda benar-benar belum sanggup untuk memimpin bangsa Indonesia. Bahkan, bisa dikatakan bahwa ucapan itu adalah bukan suara para pemuda yang hakiki. Namun itu adalah kebohongan terbesar yang dilakukan seorang anak muda yang berpikiran pesimis, yang terbunuh oleh jeratan skenario sang pengada acara.

Sudah tentu, pengalaman memang merupakan tingkat pertama yang mengandung banyak kekeliruan—bukan kesalahan—jika dijadikan sandaran kriteria untuk memimpin suatu bangsa. Karena, sekalipun pendasaran pengalaman memang amat diperlukan, pengalaman tetaplah bukan suatu alasan yang tepat untuk menjadikan pemuda sebagai anak kecil ingusan yang tak tahu apa-apa dalam memimpin. Tidaklah bisa dikatakan bahwa dengan tanpa pengalaman yang mumpuni, pemuda ibarat daun hijau dalam kancah perpolitikan Indonesia.

Di dalam kepemimpinan—khususnya kepemimpinan di dunia politik—kriteria pengalaman yang dianggap sebagai suatu keperluan, telah memperlihatkan benih-benih hitam dalam sejarah perpolitikan Indonesia. Meriahnya kejahatan korupsi, kolusi, dan nepotisme di bumi pertiwi disebabkan terlalu tingginya pengalaman yang dimiliki oleh para pejabat, petinggi, atau pemimpin bangsa sekarang ini. Pada taraf terparah, dengan semakin perlunya kriteria “pengalaman” dijadikan sebagai landasan dalam memilih pemimpin, maka kesempatan untuk mendapatkan calon pemimpin yang jujur bagaikan KUNYUK merindukan bulan. Karena, kejujuran memang selalu terlahir dari ketidak-tahuan, dan sebaliknya ketidak-jujuran tercipta dari ke-terlalu-banyak-tahu-an.

Pemimpin adalah seorang tokoh yang dengan maknanya telah pasti dibutuhkan di negeri manapun. Namun, dalam kepemimpinan bukan pengalamanlah yang dibutuhkan, melainkan semangat untuk menambah wawasan, semangat untuk berbuat jujur, semangat untuk mempelajari pengalaman masa lalu, semangat untuk membuat perubahan, semangat untuk bekerja keras, semangat untuk melahirkan ide-ide segar demi pemecahan segala permasalahan yang ada di suatu bangsa. Dan, jika berbicara tentang “semangat”, dapat terasa bahwa kaum pemuda lebih memiliki api semangat untuk mewujudkan semua itu.

Dari kata-kata sederhana di atas, jelaslah bahwa menjadikan pengalaman sebagai penghambat kaum muda untuk menjadi pemimpin bangsa adalah suatu kekeliruan. Dan, jika pernyataan tentang ketidak-berpengalaman pemuda untuk memimpin bangsa itu diucapkan oleh salah seorang dari kalangan pemuda, maka hal tersebut bukanlah suara pemuda Karena, semua pemuda tentu amat mengetahui kenyataan yang sedang melanda bangsa ini. Karena pengalaman bukanlah segalanya. Dan untuk mengganti kriteria “pengalaman” sebagai hal yang harus dimiliki seseorang untuk memimpin suatu bangsa, maka ada baiknya kita lebih memilih wawasan sebagai kriteria utama dalam memilih seorang pemimpin. Oleh karena itu, jika melihat kenyataan yang melanda bangsa Indonesia, jelaslah bahwa bangsa ini memang seharusnya sedang membutuhkan darah segar untuk memimpin bangsa yang mempunyai segudang wawasan untuk memecahkan permasalahan-permasalah tersebut. Ya, darah merah dan jiwa putih bersih pemercik semangat perubahan yang hanya bisa diharap kemunculannya dari kaum PEMUDA.

 

“Pemuda, tegapkan dadamu—Rendahkan hatimu—(kurnia)”  

Agustus 14, 2008 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Ada Matahari Cerah Di Balik Awan Hitam

Kenyataan pahit yang terbungkus oleh keputus-asa-an, selama ini menjadi awan hitam yang tak kunjung cerah. Bahkan, segala kegagalan demi kegagalan yang dialami banyak para pemuda—berawal dari sakitnya patah hati, jeratan narkoba, serta kesadaran akan ketidak-sempurnaan diri—semakin mengubur impian segenap kaum pemuda untuk tampil menjadi pemenang.

            Alangkah disayangkan, kelamnya awan dilalui tanpa adanya perenungan yang memadai yang menjelaskan hal-ihwal kenapa skenario pemuda Indonesia harus begini, mengalami kegagalan dan keterpurukan yang berkepanjangan. Bersamaan dengan itu, segala ejekan, lampangan, hinaan, dan lecehan yang kemudian dirasakan, seakan menjadi hambatan baru yang membuat para pemuda terpaku GOBLOK menangisi masa lalu dan melupakan tentang keindahaan di masa depan.

            Di tengah tuna-perenungan akan adanya matahari cerah di balik awan hitam, kegulitaan semakin menyelimuti nasib para pemuda, sehingga kesadaranpun seakan sulit untuk digapai. Masa lalu menjadi bayangan yang menakutkan, sementara masa depan berubah menjadi monster yang harus dihindari perlawanannya. Intinya, kepercayaan diri kaum pemuda habis berantakan terserak di belantara ketaklukan.

            Pemuda selamanya ditakdirkan sebagai makhluk berjuang, karena impian memang harus direbut, karena pengalaman pahit yang sudah menggerogoti pemuda bukan saja harus dirubah, tapi juga WAJIB dirombak, karena kenyataan-keyataan yang ada pada diri sekarang ini barulah berupa awal perjalanan—belum yang sesungguhnya. Maka, cita-cita di masa depan harus diwujudkan guna menyadari bahwa segala sesal yang dirasakan selama ini tiadalah bermanfaat dan berguna.

            Pengalaman kepahlawanan pemuda Indonesia di masa lalu dalam mengentaskan ketakutan akan masa depan, telah membuktikan semua ini. Kemerdekaan diraih di bawah panji pemuda. Kemenangan direbut atas jerih-payah upaya para pemuda. Maka, masa yang demikian harus dialami kembali di masa seperti sekarang ini, atau setidaknya di masa mendatang nanti. Dan bila kesadaran itu dapat diterbitkan lagi, serta diikuti rasa berani untuk membunuh pesimisme diri agar menjadi optimisme diri, maka kemenangan untuk yang kedua kalinya pasti akan terulang. Sehingga, dengan demikian, pemuda di masa depan pasti akan tertawa dan bahagia karena ternyata memang ada matahari cerah di balik awan hitam. “PERCAYALAH!”

 

“Pemuda, hentikan bicaramu tentang kegagalan, tapi hiasi kicaumu tentang angan, cita-cita, dan kemenangan…—Kurnia”               

Agustus 13, 2008 Posted by | Uncategorized | 2 Komentar

Pemuda Bangsa

KAu datang membawa lelah dari gulita malam

Matamu picik melihat kebobrokan

Telingamu memerah mendengar janji si Tua Penguasa

Oh…Kau Pemuda Bangsa…

Tangismu tak terdengar, semangatmu pun terabaikan

Oh…Kau Pemuda Bangsa…

cuma satu kata, kini bersiap teriak dari lantang suaramu…

“Pemuda! Pemuda! Pemuda!”

Agustus 9, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Menetaskan Kepribadian Gila Aksara

Di dalam salah satu kisah kehidupan Bung Karno, terkutip sebuah kalimat dari ujaran beliau, “Berikan pada saya sepuluh pemuda, maka akan saya goncangkan dunia!” ujaran tersebut tampaknya bukanlah sebuah gertakan belaka dari mulut sang proklamator yang memang kita tahu suka menggertak. Namun, itu merupakan fakta kejujuran tentang betapa berharganya seorang pemuda di mata sang proklamator tersebut. Selain itu, tampaknya, dengan mengucapkan kalimat tersebut, Bung Karno seolah berharap bahwa akan ada generasi penerus–dari pemuda tentunya–yang dapat melanjutkan perjalanan perjuangan bangsa Indonesia.

Kisah kepahlawanan pemuda memang sudah tidak perlu lagi menjadi pertanyaan. Kisahnya seakan telah mewarnai segala bentuk perjuangan di seluruh negri. Perjuangan serta kegigihan para pemuda dalam setiap aksi pemberontakan terhadap penjajah, ataupun terhadap segala bentuk kungkungan dari pihak-pihak penguasa zalim, selalu menjadi langkah awal menuju kemerdekaan suatu bangsa yang hakiki. Maka, wajarlah, dalam hal ini, pemuda bisa dianggap sebagai pelopor.

Dari segi ilmu pengetahuan, lagi-lagi para pemuda menjadi sosok yang terdepan. Di dalam buku yang berjudul seratus tokoh pelopor ilmu pengetahuan, diketahui hampir 95% dari para tokoh yang disebutkan dalam buku tersebut adalah tokoh-tokoh yang berusia relatif muda. Einstein, James Watt, Newton, dan lain-lain, mereka semua merupakan para pemuda yang dengan usia belianya telah mampu memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di zaman moderen ini.

Jika membaca beberapa fakta-fakta tertulis di atas, dapat disadari, para pemuda adalah masa depan suatu bangsa. Segala bentuk kemajuan serta perkembangan di dalam suatu bangsa berada di tangan para pemuda. Akan tetapi, pada kenyataannya, di zaman era-globalisasi seperti sekarang ini, pemuda seakan bagaikan telur usang yang belum menetas. Kehidupan para pemuda seakan hanya berputar dalam lingkaran hitamyang kelam. Pemuda kini sudah tidak lagi menyadari, bahkan sudah tidak lagi mengetahui tentang betapa berharganya kehidupan mereka. Pemuda kehilangan arah. Dan, dalam hal ini, dampak yang terjadi adalah pemuda seketika menjadi sekumpulan manusia bingung yang sibuk mencari arah kehidupannya–atau sering disebut sebagai pencarian jati diri. Dan dalam kesibukannya ini, pemuda pun lantas menjadi lupa akan kewajibannya yang sebenarnya, yaitu menetaskan kulit telur yang kini sedang mengurungnya.

Lalu, apa yang harus dilakukan oleh para pemuda agar tidak terlalu tenggelam dalam proses pencarian jati dirinya? Jawaban akan pertanyaan ini sebenarnya tidak perlu dijawab. Yang perlu dilakukan oleh pemuda hanyalah satu, yaitu Menetaskan Kepribadian Gila Aksara yang kini sedang tertidur lelap dalam lubuk hati para pemuda. Ya, pemuda harus kembali membuka buku-buku yang menceritakan tentang kehebatan mereka. Pemuda harus kembali mengenal siapa diri mereka, dan seberapa berharga kehidupan mereka. Dan ketika semua ini mampu ditelusuri oleh para pemuda, niscaya kemunduran suatu bangsa tak akan pernah terjadi. Dan, ucapan Sang Proklamator, Ir. Soekarno, tentang kehebatan para pemuda, bukanlah sekedar isapan jempol belaka.

Pada akhirnya, PEMUDA HARUS BANGKIT. PEMUDA HARUS MAJU. PEMUDA HARUS BERANI. PEMUDA…YA, PEMUDA…TETASKANLAH KEPRIBADIAN GILA AKSARAMU!!!

Agustus 9, 2008 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.